ariyo's picture

Kawan-kawan, berikut ini adalah draft mengenai mekanisme penyaluran (distribusi) Beasiswa 98. Dokumen ini disusun oleh Syukur Setyawan (MS98) yang memegang Divisi Penyaluran di Tim Beasiswa ITB 98. Karena masih bersifat draft, kritikan dan saran sangat diharapkan. Silakan tambahkan komentar (khusus buat yang sudah punya login ke website ITB98.com) atau kirim email ke milis itb98@yahoogroups.com.

Beberapa jenis beasiswa yang bisa kita berikan

  1. Beasiswa Dana Pendidikan, besarnya sesuai iuran SPP di ITB, diberikan setiap awal semester
  2. Beasiswa Uang Saku, besarnya Rp 200rb perbulan(???)
  3. Beasiswa Tugas Akhir, besarnya Rp 1jt(???)

Jumlah penerima dana disesuaikan dengan anggaran yang ada, berlaku untuk 1 tahun ajaran.

Syarat penerima beasiswa:

  1. Mahasiswa ITB, minimal telah lulus TPB
  2. IPK terakhir 3.25 untuk TPB dan 2.75 untuk sarjana muda dan sarjana.
  3. Aktif dalam kegiatan non-akademik (bisa di kampus maupun di luar kampus)
  4. Dari keluarga kurang mampu dan memerlukan bantuan beasiswa
  5. Berkelakuan baik

Pendaftaran:

  1. Mengajukan permohonan beasiswa
  2. Mengisi formulir pendaftaran, yang berisi:
    • Informasi pribadi (nama, NIM, jur, alamt, email, HP)
    • Riwayat pendidikan
    • Kegiatan non akademis
    • Penghargaan khusus/pencapaian
    • Aktifitas sosial dan pelayanan masyarakat
    • Kondisi ekonomi (pemasukan, pengeluaran, fasilitas yg dimiliki, status tmp tinggal di Bandung, ...)
    • Riwayat keluarga (nama, alamat, pekerjaan, kesehatan, ...)
    • Pertanyaan pribadi (misal: motivasi masuk ITB, alasan ikut beasiswa, rencana setelah lulus, ide pelayanan masyarakat, dll)
    • ......
  3. Transkip nilai terakhir
  4. Surat rekomendasi dari jurusan
  5. Surat keterangan Lurah/Kepala Desa tempat tinggal asal.
  6. Surat keterangan penghasilan orang tua, fotocopy Kartu Keluarga, fotocopy pembayaran listrik

Proses Seleksi:

  1. Sosialisasi
    • Posting melalui milis ITB98, lalu para milist diharap cascade ke juniornya di himpunan/unit
    • Email/surat/kunjungan ke jurusan/himpunan/unit/KM
    • Upload ke website ITB98
  2. Pendaftaran
    • Hard copy
    • Soft copy
      (Tujuan pengiriman belum ditentukan)
  3. Seleksi Tahap I
    • Calon yang lolos tahapan ini berdasar kesesuaian terhadap profil terukur yang kita tentukan, tidak dibatasi jumlah.
    • Profil terukur misalnya:
      • kelengkapan berkas dan data
      • IPK
      • punya kegiatan non-akademis
      • kondisi ekonomi
  4. Seleksi Tahap II (wawancara)
    • Klarifikasi data-data di berkas.
    • Pendalaman jawaban calon terhadap pertanyaan pribadi
    • Penilaian kepribadian
  5. Penentuan penerima beasiswa

Kriteria Pemilihan

Penerima beasiswa dipilih berdasar penilaian terhadap beberapa aspek:

  1. Kondisi ekonomi, bobot 30%
  2. Prestasi (akademis+non-akademis), bobot 30%
  3. Aktifitas non akademis, bobot 30%
  4. Atitude, bobot 10%

Setiap aspek akan diberi skor (misal 1 sampai 5), lalu dikalikan dengan bobot masing-masing, sehingga keluar skor total yang akan menjadi peringkat prioritas penerima beasiswa.

 

ariyo's picture

Kiriman dari Syafril, TA98. Masih soal reog, agak basi tapi lumayanlah…

Sekarang ini dimana-mana kok isinya orang ngributin Reog Ponorogo dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah
gimana ceritanya kita ini — yang pemuja sandang Calvin Klein dan
penikmat assiette du pecheur (mampus gak tuh bacanya) — tiba-tiba kok
jadi apresiatif dengan yang namanya reog. Lha wong pertunjukan asli
Jawa Timuran ini (hidup Arema!) di Taman Mini aja nggak ada yang
nonton, kalah sama meriahnya festival tari Salsa (joget a la Jennifer
Lopez) di Hotel Mulia bulan kemarin.
C'mooonnn guys… kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? 10
tahun lalu?
Tari Barongan
-------------
Tari Barongan yang diklaim Malaysia ini memang mirip dengan Reog
Ponorogo. Bayangan saya tadinya pemerintah mereka datang ke Ponorogo,
nonton reog lalu terbetik ide di kepala mereka "Kita klaim aja ini
punya kita!"?

Mmm, kayaknya they are not that stupid deh…

Surprisingly, saya baru kebayang apa yang sebenarnya mungkin terjadi
ketika coba simple search di Google. Guess what? Ada sebuah makalah
tahun 1994 di Universiti Kebangsaan Malaysia yang judulnya
"Perkembangan Seni Tari Barongan Sebagai Satu Permainan Tradisional
Orang-orang Jawa di Batu Pahat, Johor." Orang-orang Jawa?? Guys, ini
orang-orang kita juga! Orang-orang kita yang barangkali dulunya punya
kelompok seni reog tapi ditinggalkan pemirsanya, lalu pergi mencari
rejeki yang rada layak ke Negeri Jiran, menjadi warga negara sana,
mengembangkan kesenian a la reog di sana, mengubah pakem-pakem reog
kecuali atributnya dan memberinya dengan nama lain Tari Barongan… dan
disambut baik!
Salahkah?

Lha gimana, wong di negerinya sendiri orang-orangnya lebih suka
mengunjungi pentas Christina Aguilera atau menghabiskan Rp 1,5 juta
untuk nonton Disney On Ice milik Feld Entertainment buat anak-anaknya?
Ada kasus lain.

Spy Plane
----------
Cuma beberapa gelintir saja negara yang memiliki pesawat mata-mata
tanpa awak (UAV). Amerika dan Israel jelas yang paling aktif
memproduksi. Di Asia ada India, Pakistan, Jepang, Cina dan Korea yang
punya program khusus untuk bikin spy plane semacam itu, walau masih
bergantung pada perangkat-perangkat dari Israel. Indonesia juga mau
beli dari Israel (padahal kita nggak punya hubungan diplomatik sama
mereka). Tapi Malaysia… mereka bisa bikin sendiri!
Siapa otak di balik UAV bikinan Malaysia ini? Dr. Endri Rachman,
seorang mantan engineer di IPTN yang hijrah ke Malaysia dan menjadi
pengajar di Universiti Sains Malaysia… orang Indonesia!
Salahkah? Ya kalau di IPTN cuma digaji Rp 500 - 900 ribu, sementara
pemerintah Malaysia mau mengucurkan 1 milyar untuk bikin prototipe
UAV… Kita bener-bener punya sejarah yang buruk tentang bagaimana
memperlakukan orang-orang pinter negeri ini.
So… Kebayang gak situasinya?

Bagaimana pun di hati kecil ini, kasihan juga sebenarnya Malaysia…
Mereka itu negara seuprit. Tidak sebesar dan sekaya — secara budaya —
Indonesia. Mereka punya program Visit Malaysia Year 2007, mencoba
mati-matian menggali budaya sendiri dan menemukan bahwa nggak banyak
yang bisa diperoleh hanya dari satu rumpun, yakni Melayu. Sementara
'sang kakak' Indonesia… begitu melimpah ruah.
Tahukah kita bahwa Indonesia punya 300 suku dengan budaya yang beragam
satu sama lain?
Tahukah kita berapa banyak bahasa daerah yang ada Indonesia? Lima? 20?
Kita punya 742 bahasa daerah! Itu pun yang tercatat. (Gimana caranya
742 bahasa bisa ada di wilayah kecil Nusantara ini?) Bayangkan,
bukankah Indonesia sebenarnya adalah miniatur dunia?
Miniatur dunia, negeri Atlantis yang `hilang' (katanya), dengan
tambang emas terbesar di Papua sana dan tembaga terbesar ketiga di
dunia (yang semuanya diangkut ke Amerika), kepulauan terbesar di dunia
dengan 17.000 pulau (sampe kita bingung gimana jaganya), produsen
minyak berkualitas tinggi (yang kita ekspor, sementara minyak kualitas
rendah kita impor untuk dalam negeri), produsen timah terbesar di
dunia!… Bayangkan, kita ini negara kaya!

Kembali ke reog-reogan ini.

Oh, oh ya… Tentu saja: ini semua bukan soal budaya atau soal kita yang
tiba-tiba begitu perhatian dengan pelestarian warisan leluhur. Ini
adalah — yah seperti halnya seluruh kejadian di sepanjang sejarah
manusia sejak jaman paleolithicum dulu: soal harga diri. Soal kita
yang ngerasa kecolongan dan mereka yang kita anggap mencuri tanpa kita
sebenarnya pernah tahu apa sebenarnya yang dicuri.
Teman-teman yang baik, apa sih sebenarnya yang dicuri — di luar harga diri? Pahamkah kita berapa nilai yang dicuri? Berapa `harga' Reog Ponorogo bagi kita? Karena jangan-jangan kita cuma kehilangan apa yang
sudah kita sendiri anggap sebagai sampah. Pernahkah kita melongok
sejenak apa yang hendak dikisahkan melalui tarian-tarian itu, di
sela-sela kursus Tango dan senam Pilates kita yang intens? Tentang
orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang
binatang?

Hello World

Erwinwxy dapet cerita pendek dari internet. Dan ini mungkin buat para pejuang Cinta supaya jgn cuman ragu2x doank, atau bahasa kerennya:
NEVER sit around wondering if she likes you or not, you should just go talk to her.
Mohon maaf kl dah baca.



10th grade
As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called "best friend". I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn't notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

11th grade
The phone rang. On the other end, it was her. She was in
tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn't want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Senior year
The day before prom she walked to my locker. "My date is sick" she said; he's not going to go well, I didn't have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as "best friends". So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step! I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn't think of me like that, and I know it. Then she said "I had the best time, thanks!" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Graduation Day
A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn't notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, "you're my best friend, thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

A Few Years Later
Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say "I do" and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn`t see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said "you came!". She said "thanks" and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Funeral
Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my "best friend". At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read:
I stare at him wishing he was mine, but he doesn't notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don't want to be just friends, I love him but I'm just too shy, and I don't know why. I wish he would tell me he loved me!

I wish I did too... I thought to my self, and I cried.
I love u

ariyo's picture

Kondisi terakhir teman kita, Zakia Lutfiyani (Fisika 98), sudah sadar, tp masih lemah. Beliau baru saja menjalani operasi jantung di RS Harapan Kita. Bagi teman-teman 98 (terutama FI98) yang mau menjenguknya bisa datang ke RS Harapan Kita gedung 1 lantai 1. Kalau sore jam besuknya jam 17-19.00. Semoga lekas pulih ya Zakia...

New Pictures

Ajenk dan Weby
Weby, ketua Program Beasiswa ITB98
Ajenk dan Weby
Pipit, Aan, Alex, Ajenk, Weby

Who's online

There are currently 0 users and 3 guests online.