Reog Ponorogo, Indonesia, Malaysia

ariyo's picture

Kiriman dari Syafril, TA98. Masih soal reog, agak basi tapi lumayanlah…

Sekarang ini dimana-mana kok isinya orang ngributin Reog Ponorogo dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah
gimana ceritanya kita ini — yang pemuja sandang Calvin Klein dan
penikmat assiette du pecheur (mampus gak tuh bacanya) — tiba-tiba kok
jadi apresiatif dengan yang namanya reog. Lha wong pertunjukan asli
Jawa Timuran ini (hidup Arema!) di Taman Mini aja nggak ada yang
nonton, kalah sama meriahnya festival tari Salsa (joget a la Jennifer
Lopez) di Hotel Mulia bulan kemarin.
C'mooonnn guys… kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? 10
tahun lalu?
Tari Barongan
-------------
Tari Barongan yang diklaim Malaysia ini memang mirip dengan Reog
Ponorogo. Bayangan saya tadinya pemerintah mereka datang ke Ponorogo,
nonton reog lalu terbetik ide di kepala mereka "Kita klaim aja ini
punya kita!"?

Mmm, kayaknya they are not that stupid deh…

Surprisingly, saya baru kebayang apa yang sebenarnya mungkin terjadi
ketika coba simple search di Google. Guess what? Ada sebuah makalah
tahun 1994 di Universiti Kebangsaan Malaysia yang judulnya
"Perkembangan Seni Tari Barongan Sebagai Satu Permainan Tradisional
Orang-orang Jawa di Batu Pahat, Johor." Orang-orang Jawa?? Guys, ini
orang-orang kita juga! Orang-orang kita yang barangkali dulunya punya
kelompok seni reog tapi ditinggalkan pemirsanya, lalu pergi mencari
rejeki yang rada layak ke Negeri Jiran, menjadi warga negara sana,
mengembangkan kesenian a la reog di sana, mengubah pakem-pakem reog
kecuali atributnya dan memberinya dengan nama lain Tari Barongan… dan
disambut baik!
Salahkah?

Lha gimana, wong di negerinya sendiri orang-orangnya lebih suka
mengunjungi pentas Christina Aguilera atau menghabiskan Rp 1,5 juta
untuk nonton Disney On Ice milik Feld Entertainment buat anak-anaknya?
Ada kasus lain.

Spy Plane
----------
Cuma beberapa gelintir saja negara yang memiliki pesawat mata-mata
tanpa awak (UAV). Amerika dan Israel jelas yang paling aktif
memproduksi. Di Asia ada India, Pakistan, Jepang, Cina dan Korea yang
punya program khusus untuk bikin spy plane semacam itu, walau masih
bergantung pada perangkat-perangkat dari Israel. Indonesia juga mau
beli dari Israel (padahal kita nggak punya hubungan diplomatik sama
mereka). Tapi Malaysia… mereka bisa bikin sendiri!
Siapa otak di balik UAV bikinan Malaysia ini? Dr. Endri Rachman,
seorang mantan engineer di IPTN yang hijrah ke Malaysia dan menjadi
pengajar di Universiti Sains Malaysia… orang Indonesia!
Salahkah? Ya kalau di IPTN cuma digaji Rp 500 - 900 ribu, sementara
pemerintah Malaysia mau mengucurkan 1 milyar untuk bikin prototipe
UAV… Kita bener-bener punya sejarah yang buruk tentang bagaimana
memperlakukan orang-orang pinter negeri ini.
So… Kebayang gak situasinya?

Bagaimana pun di hati kecil ini, kasihan juga sebenarnya Malaysia…
Mereka itu negara seuprit. Tidak sebesar dan sekaya — secara budaya —
Indonesia. Mereka punya program Visit Malaysia Year 2007, mencoba
mati-matian menggali budaya sendiri dan menemukan bahwa nggak banyak
yang bisa diperoleh hanya dari satu rumpun, yakni Melayu. Sementara
'sang kakak' Indonesia… begitu melimpah ruah.
Tahukah kita bahwa Indonesia punya 300 suku dengan budaya yang beragam
satu sama lain?
Tahukah kita berapa banyak bahasa daerah yang ada Indonesia? Lima? 20?
Kita punya 742 bahasa daerah! Itu pun yang tercatat. (Gimana caranya
742 bahasa bisa ada di wilayah kecil Nusantara ini?) Bayangkan,
bukankah Indonesia sebenarnya adalah miniatur dunia?
Miniatur dunia, negeri Atlantis yang `hilang' (katanya), dengan
tambang emas terbesar di Papua sana dan tembaga terbesar ketiga di
dunia (yang semuanya diangkut ke Amerika), kepulauan terbesar di dunia
dengan 17.000 pulau (sampe kita bingung gimana jaganya), produsen
minyak berkualitas tinggi (yang kita ekspor, sementara minyak kualitas
rendah kita impor untuk dalam negeri), produsen timah terbesar di
dunia!… Bayangkan, kita ini negara kaya!

Kembali ke reog-reogan ini.

Oh, oh ya… Tentu saja: ini semua bukan soal budaya atau soal kita yang
tiba-tiba begitu perhatian dengan pelestarian warisan leluhur. Ini
adalah — yah seperti halnya seluruh kejadian di sepanjang sejarah
manusia sejak jaman paleolithicum dulu: soal harga diri. Soal kita
yang ngerasa kecolongan dan mereka yang kita anggap mencuri tanpa kita
sebenarnya pernah tahu apa sebenarnya yang dicuri.
Teman-teman yang baik, apa sih sebenarnya yang dicuri — di luar harga diri? Pahamkah kita berapa nilai yang dicuri? Berapa `harga' Reog Ponorogo bagi kita? Karena jangan-jangan kita cuma kehilangan apa yang
sudah kita sendiri anggap sebagai sampah. Pernahkah kita melongok
sejenak apa yang hendak dikisahkan melalui tarian-tarian itu, di
sela-sela kursus Tango dan senam Pilates kita yang intens? Tentang
orang-orang gila bertopeng yang mencak-mencak? Dongeng konyol tentang
binatang?

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
3 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

New Pictures

Ajenk dan Weby
Weby, ketua Program Beasiswa ITB98
Ajenk dan Weby
Pipit, Aan, Alex, Ajenk, Weby

Who's online

There are currently 0 users and 4 guests online.